Thursday, 4 June 2015

Jangan kau lakukan

Jangan kau lakukan

Jangan sering kau puji dirinya
Nanti kau kehabisan kata kata
Hingga dia bosan tuk mendengarnya
Terus tinggalkan kamu pula
                Jangan kau sanjung dirinya
                Nanti dia besar kepala
                Hingga dia jadi jelek
                Karna kepalanya jadi besar
                Gak support sama badannya
Jangan kau merayu dirinya
Nanti kupingnya naik
Hingga dia tambah jelek
Karna kupingnya jadi naik
Gak support sama kepalanya
                Apalagi kalau kau sanjung dan rayu dirinya
                Nanti kepalanya jadi besar
                Kupingnya jadi naik
                Hingga dia pun jadi mirip sama kurcaci
                Mau kau pacaran sama kurcaci ??
                Kalo nggak mau …

                Makanya gak usa kau sanjung sanjung sama rayu rayu dia

Wednesday, 3 June 2015

Kau padamkkan aku dengan sinar terang

Kau padamkkan aku dengan sinar terang

Yeah,,, mungkin itu lah yang tersirat dalam benakmu
Tasa puas telah menyelimutimu
Rasa bangga telah membungkam kerendahan hatimu
Tapi,,, apakah kau memang punya kerendahan hati?
Maaf,,,tapi aku kurang yakin akan hal itu
                Maaf mungkin telah tersirat dari mulut manismu
                Tapi hatimu masihlah membatu
                Aku tau itu…
                Raut wajahmu menyampaikannya padaku
Tapi maaf kawan,,,
Maaf sebesar besarnya padamu
Maaf aku tak bisa menerima maafmu
Aku orang yang tak dapat memaafkan orang yang tidak menyakitiku
Kau itu pendorong bagiku
Kau bagaikan inang yang memberikan kehidupan bagi benalu ini
Kau membuatku terbangkit dari tanah yang hampir menguburku
Cacianmu bagaikan sinar cerah yang memberiku jalan terang
Makianmu bagaikan jembatan jalanku yang telah terputus
Terimakasih kawan
Terimakasih banyak padamu
Maaf beribu maaf aku tak dapat memaafkanmu



Monday, 1 June 2015

Pancasila

Pancasila ku dan kamu yang sejenis dengan ku

Satu
Ketuhanan Yang Maha Esa
Dua
Kemanusiaan yang adil dan beradap
Tiga 
Persatuan Indonesia
Empat
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Lima 
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Begitulah isi dari dasar negaraku
Dasar negaraku Pancasila
Sebaiknya jangan pernah kau ubah wahai benalu
Sebaiknya kau tanyakan dulu pada pahlawan apa artinya
Yang bengak janganah kau mengungkap sembarangan
Karna dasar negaraku bukan dibuat orang sembarangan
Yang pintar cukuplah kau membodohiku
Tapi jangan kau ubah makna dasar negaraku
Terserahmu,apa kau masih menganggap sama negara kita
Tapi kulihat kau telah lari dari situ
Tak kau hapus memang
Tapi kau buat maknamu sendiri
Ingat bukan kau yang buat dasar negaraku 
Tapi Pahlawankulah pelakunya
Janganlah kau sok tau benalu!
Hiduplah terus dasar negaraku PANCASILA
Kau akan terus terlahir
Walaupun banyak benalu yang membentakmu
Selamat hari lahir PANCASILA ku 

Orang Banyak

Orang Banyak

Orang banyak salah satunya dirimu
Aku tak heran lagi akanmu
Kau kan banyak
Memang begitulah dirimu
Setiap kata hanyalah kata yang bisa dihapus
Di hapus dengan penghapus pensil biasa
Ucap hanya bagaikan sandiwara di matamu
Kau tak pernah melihat sisi yang berbeda
Kau mengakui kekalahan hanya untuk meredam
Meredam semakin terlihatnya kekalahanmu
Kau mengIYAkan orang yang tidak sepemikiran denganmu
Dan menutup menutup kupingmu
Tapi kusadari itu
Mungkin kaca di rumahmu tidak lagi memantulkan wajahmu
Atau mungkin semua yang terpantul dari kacamu adalah dirimu
Ah,,, sukakmu lah situ
Kau kan gak terbilang orangnya
Bengak

Sunday, 31 May 2015

Kutemukan Diriku

Kutemukan Diriku

Telah jauh kaki ini menapak
Telah banyak kerikil terinjak
Dan tak kalah banyak batu besar tersepak
Tapi ku belum tersentak

Kini kuberpikir sejenak
Apakah aku ini
Haruskah terus berharap kepada sang mentari
Atau sang bulan untuk sinari malam

Kini ku mulai terperanjak
Roda berputar tak ada arti
Ku hanya ingin berlari
Mengejar mimpi yang kuanggap pasti
Terlahir dari sang kuli
Membuatku harus terus berlari
Tak ada waktu untuk menanti

Kutemukan diriku
Yang telah lusuh dan penuh debu
Kini ku telah sirami air
Tuk bersihkan sedikit demi sedikit
Dan memberi pewangi di akhir kelak

Saturday, 30 May 2015

Menganalisa Puisi Chairil Anwar 'Aku'

 AKU 
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau …
Tak perlu sedu sedan itu…
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang …
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang…
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri…
Dan aku akan lebih tidak perduli…
Aku mau hidup seribu tahun lagi…
Chairil Anwar
Maret 1943
Puisi adalah bentuk ekspresi pengalaman empiric atau batin yang diwujudkan dengan bahasa-bahasa indah, perumpamaan dan kiasan. Puisi juga merupakan cara penyampaian tak langsung dari seseorang terhadap sesuatu hal yang dirasa, emosi dan perasaan jiwa yang dialami seseorang. Cara tak langsung itu dilakukan melalui aneka bentuk perumpamaan yang terangkai dalam sajian kata-kata yang indah, singkat, multitafsir dan cerdas dalam bahasa berirama.
Puisi AKU karya Chairil Anwar yang menceritakan kepribadian seseorang yang tangguh dalam menjalani kehidupannya. Di dalam puisi itu ada beberapa pesan yang tersirat.

STRUKTUR PUISI
A. TEMA
Judul puisi tersebut adalah AKU, menggunakan tema tentang kegigihan hidup seseorang yang ingin selalu memperjuangkan haknya tanpa merugikan orang lain, walaupun banyak rintangan yang ia hadapi. Dari judulnya sudah terlihat bahwa puisi ini menceritakan kisah ‘AKU’ yang mencari tujuan hidup.

B. PEMILIHAN KATA ( DIKSI )
Pemilihan kata pada puisi AKU terlihat bahwa sang penulis menulisnya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca dan mempunyai emosi yang cukup kuat. Walaupun ada beberapa kata yang terasa ganjil bila diucapkan, seperti kata ‘perduli’ yang seharusnya ‘peduli’ tetapi tidak mengurangi makna yang terdapat dalam puisi tersebut.

C. PERASAAN
Dalam puisi tersebut menggambarkan perasaan penulis yang optimis untuk memperjuangkan hidupnya yang dipenuhi dengan rintangan seberat apapun, sikap kegigihannya yang sangat tinggi. Selain itu ada beberapa bait yang menggambarkan kesedihan karena keberadaan tokoh ‘AKU’ pernah tidak di anggap oleh orang lain. Dan tokoh ‘AKU’ yang berpesan agar tidak menagisinya ketika ia meninggal nanti.

D. NADA dan SUASANA
a.)    Nada
Dalam puisi tersebut penulis menggambarkan nada-nada yang berwibawa, tegas, lugas dan jelas dalam penyampaian puisi ini, karena banyak bait-bait puisi tersebut menggandung kata perjuangan. Dan menggunanakan nada yang syahdu di bait yang terkesan sedikit sedih.
b.)    Suasana
Suasana yang terdapat dalam puisi tersebut adalah suasana yang penuh perjuangan, optimis dan kekuatan emosi yang cukup tinggi tetapi ada beberapa suasana yang berubah menjadi sedih karena dalam puisi tersebut menceritakan ada beberapa orang yang tak mengaangap perjuangannya si tokoh.

E .BAHASA FIGURATIF ( MAJAS )
Dalam puisi tersebut menggunakan majas hiperbola pada kalimat “Aku tetap meradang menerjang”
Terdapat juga majas metafora pada kalimat “Aku ini binatang jalang”

F. AMANAT
Amanat yang terkandung dalam puisi tersebut adalah semangat dan kegigihan dalam memperjuangkan tujuan hidup haruslah kuat jika itu semua ingin tercapai. Lakukan selama hal itu benar, jangan takut akan kegagalan seberat apapun dan jangan apa yang kita lakukan itu merugikan orang lain. Karena perbuatan baik akan terkenang hingga raga telah tiada.

Sumber :
https://zulfaworld.wordpress.com/2014/03/27/menganalisa-karya-sastra-puisi-karya-chairil-anwar-aku/

Kumpulan puisi Cairil Anwar

 Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi



TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943


Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.


Cintaku Jauh di PulauCintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.


Kawanku dan Aku
Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa?

Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti


Kepada Kawan
 

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!


Doa
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


Kepada Peminta-minta
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku

Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku


Cerita Buat Dien Tamaela
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau...

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu


Sebuah Kamar
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!


Hampa
Kepada Sri

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai di puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu! 

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS 
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

RUMAHKU
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

27 april 1943 


PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
1944
http://www.was-was.com/